KDRT Dalam Perspektif Sosiologis

Media Priangan - Rumah tangga dalam keluarga inti (nuclear family) terdiri atas seorang suami, seorang istri, dan anak, seatu kelaziman sebuah rumah tangga dari adanya anggota keluarga lainnya seperti mertua, ipar, dan sanak saudara atas dasar pertalian darah maupun pertalian perkawinan dengan suami-istri. Selain itu, rumah tangga dalam kehidupan modern di perkotaan diramaikan lagi dengan kehadiran orang lain yang berperan sebagai pembantu.

Tindak kekerasan dalam rumah tangga sebagai fakta sosial bukanlah perkara baru dari persfektif sosiologis masyarakat Indonesia. Persoalan ini sudah terjadi sejak lama dan masih berlanjut sampai sekarang.

“Definisi Kekerasan dalam Rumah Tangga  dalam Pasal 1 UU Nomor 23 tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga (UU PKDRT) adalah setiap perbuatan terhadap seseorang terutama perempuan, yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, psikologis, seksual dan/atau penelantaran rumah tangga termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan, pemaksaan, atau perampasan kemerdekaan secara melawan hukum dalam lingkup rumah tangga, UU PKDRT ini lahir atas perjuangan panjang selama tujuh tahun oleh para aktivis gerakan perempuan dari berbagi elemen”. kata Andi Handani, S.Pd.I, SH, MH salah seorang Dosen Prodi Hukum Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama Tasikmalaya

“Dalam situasi Pandemi Corona Virus Diseases – 19 saat ini, di tengah himbauan social distancing, perempuan dinilai lebih rentan terkena dampak krisis. Di antaranya mengemban peran ganda sebagai pekerja sekaligus pengelola rumah tangga dan pengaruh kesehatan mental perempuan, himbauan bekerja dan belajar di rumah setidaknya membebani perempuan untuk mengambil peran menjadi guru, pengasuh utama anak dan anggota keluarga lainnya, sambil mengerjakan pekerjaan produksi dan melayani keluarga. Selain menambah beban kerja, peran sosial yang dilekatkan pada perempuan membuat mereka semakin berisiko lelah”, kata Andi

“Berdasarkan data SIMFONI (Sistem Informasi Online Perlindungan Perempuan dan Anak) Pemberdayaaan Perempuan dan Perlindungan Anak, sejak 2 Maret sampai 25 April 2020 di Indonesia, tercatat ada 275 kasus kekerasan yang dialami perempuan dewasa ,kasus kekerasan yang dialami anak dengan korban sebanyak 407 anak dalam masa Pandemi Corona Virus Diseases - 19. Rinciannya, 300 anak perempuan korban dan 107 anak laki-laki menjadi korban.” Kata Andi

“Pelayanan cepat terhadap laporan adanya tindakan KDRT sangat dibutuhkan pada kondisi sulit ini, tentunya akan memberi tempat teduh pada perempuan, perempuan korban KDRT, perempuan pekerja migran, perempuan disabilitas dan anak yang memerlukan perlindungan khusus di antaranya anak korban kekerasan, eksploitasi, perlakuan salah, dan penelantaran baik secara offline maupun online ,” ujar Andi.

“Layanan cepat Unit PPA Polres Tasikmalaya bekerjasama dengan P2TP2A kota Tasikmalaya terhadap laporan tindakan KDRT perlu mendapatkan apresiasi penuh dari pemerintah dan masyarakat, sehingga pelaku KDRT tidak akan mengulangi perbuatannya dan pelaku KDRT benar-benar  menyadari bahwa apa yang telah ia lakukan adalah melawan hukum dan akan mendapatkan sanksi,ujarnya pula

“Saya mendesak terhadap pemerintah untuk membuat upaya pencegahan semaksimal mungkin dalam mengatasi kekerasan terhadap perempuan sebagai bagian dari langkah penting dari rencana nasional untuk merespons UU PKDRT,” ujarnya.

Andi mengingatkan, Dari Aisyah r.a., berkata: “Bahwa Rasulullah saw. tidak pernah memukul siapapun dengan tangannya. Tidak pada perempuan (istri), tidak juga pada pembantu, kecuali dalam perang di jalan Allah. Nabi saw. juga ketika diperlakukan sahabatnya secara buruk, tidak pernah membalas. Kecuali kalau ada pelanggaran atas kehormatan Allah. Maka, ia akan membalas atas nama Allah azza wa jalla.” (H.R. Muslim).

Wilayah :

Tasikmalaya

Admin

Total Posts: 18

Media Online yang berbagi informasi untuk masyarakat priangan.