Mediapriangan.com - Siapa warga Jawa Barat yang tidak tahu gunung tangkuban perahu ? Rasanya, seluruh warga Jawa Barat pasti mengetahuinya. Gunung Tangkuban Perahu kini ramai menjadi tempat wisata yang menawan dan menarik minat wisatawan. Gunung ini memiliki ketinggian 2.084 meter di atas permukaan laut (mdpl).
Nama Gunung Tangkuban Perahu memanglah karena bentuknya panjang dan mirip seperti perahu yang terbalik. Oleh karena itu gunung ini dinamakan Tangkuban Perahu. Jarak tempuh Gunung Tangkuban Perahu dari pusat Kota Bandung kurang lebih 20 kilometer. Di gunung ini suhunya mencapai 17 derajat celsius pada siang hari. Apabila malam hari, lebih dingin lagi. Mencapai 2 derajat celsius.
Gunung Tangkuban Perahu tak hanya memiliki pemandangan yang menarik. Ternyata gunung ini juga memiliki legenda menarik. Simak ulasan legenda Gunung Tangkuban Perahu yuk!
Legenda Gunung Tangkuban Perahu
Bagi Anda yang tinggal di Jawa Barat pasti pernah membaca Legenda Sangkuriang dalam mata pelajaran bahasa sunda. Sangkuriang merupakan cerita dibalik Gunung Tangkuban Perahu. Tentunya cerita Sangkuriang menjadi asal usul Gunung Tangkuban Perahu.
Pada cerita Sangkuriang, ada seorang perempuan cantik yang membuat laki-laki terpana saat melihatnya. Perempuan ini bernama Dayang Sumbi. Sebelum masuk menceritakan Sangkuriang, mari ketahui dulu cerita Dayang Sumbi.
Dayang Sumbi adalah putri seorang raja yang bernama Sumbing Perbangkara. Saat Dayang Sumbi dewasa, kecantikannya semakin terlihat dan mempesona hingga pelosok kerajaan. Hingga akhirnya Dayang Sumbi diperebutkan oleh pangeran dan raja-raja. Sampai perang terjadi karena memperebutkan Dayang Sumbi.
Melihat kekacauan itu, Dayang Sumbi memohon izin pada ayahnya untuk meninggalkan kerajaan dan menyendiri tinggal di hutan. Sang ayah mengizinkannya. Kemudian, ayahnya memberikan Tumang, anjing pemburu milik ayahnya untuk menemani Dayang Sumbi.
Hingga pada akhirnya, Dayang Sumbi pergi ke hutan dan tinggal di pondok tepi hutan. Ia mengisi kegiatan sehari-hari dengan menenun. Suatu hari, saat Dayang Sumbi sedang menenun sambil duduk di bale-bale, ia tak sengaja mengantuk. Akhirnya, alat tenun yang ia gunakan terjatuh ke lantai. Namun, karena mengantuk ia merasa malas mengambilnya. Sampai akhirnya ia bersumpah akan menikahi siapapun yang membantunya mengambil alat itu.
Ternyata yang mengambil alat itu adalah Tumang. Si anjing pemburu yang menemaninya di rumah. Karena ia sudah terlanjur bersumpah, mau tidak mau Dayang Sumbi menikahi Tumang. Namun, siapa sangka, ternyata Tumang adalah jelmaan seorang dewa yang sangat tampan. Tidak ada yang mengetahuinya selain Dayang Sumbi.
Dayang Sumbi dan Sangkuriang
Setelah menikah dengan Tumang, Dayang Sumbi dikarunia anak laki-laki yang tampan. Ia diberi nama Sangkuriang. Sangkuriang bertumbuh sebagai anak-anak yang tampan. Sampai akhirnya ia sudah terlatih memanah. Suatu hari, Sangkuriang diminta ibunya untuk berburu rusa, karena Dayang Sumbi ingin memakan hati rusa.
Pergilah Sangkuriang ke hutan bersama Tumang si anjing pemburu. Saat di Hutan, Sangkuriang melihat babi hutan dan ingin memanahnya. Namun, sayangnya panah meleset. Sangkuriang menyuruh Tumang untuk mengejar babi hutan itu tapi Tumang hanya terdiam. Tumang terdiam karena ia tau babi hutan itu adalah jelmaan dewi Wayung Hyang.
Sangkuriang pun marah pada Tumang. Ia menakuti Tumang dengan membidik panah ke arahnya. Tanpa sengaja, panah pun terlepas dan mengenai jantung Tumang. Sangkuriang sedih dan putus asa. Tapi karena memikirkan ibunya, ia mengambil hati Tumang untuk ibunya.