pendidikan

Kisah Qonita Kurnia, Wanita Usia 25 Tahun Raih Gelar Doktor di Irlandia

Jumat, 20 Mei 2022 | 12:32 WIB

Mediapriangan.com - Qonita Kurnia Anjani, merupakan sarjana lulusan Fakultas Farmasi Universitas Hasanuddin (Unhas) angkatan 2012 yang berhasil meraih gelar doktor di Queen’s University Belfast, Irlandia Utara pada usia 25 tahun.

Qonita mengaku, tertarik dengan pengembangan obat-obatan sejak semester pertama kuliah di Unhas. Dan pada saat semester tiga, Ia mulai menekuni bidang penelitian tentang teknologi penghantaran obat, khususnya teknologi yang memungkinkan obat bisa masuk ke dalam kulit. 

Sejak itu, dirinya aktif mengikuti berbagai perlombaan yang berhubugan dengan penelitian di bidang farmasi. Ia pun pernah menyabet medali emas dalam kompetisi  8th European Exhibition of Creativity and Innovation, tahun 2016. Dikutip dari laman identitasunhas.com (20/5/2022). 

Wanita kelahiran 1995 ini mengaku, sampai menuangkan ketertatikan itu dalam skripsinya yang banyak membahas tentang gel. Belakangan ia tahu, ternyata di luar negeri sudah dikembangkan teknologi serupa yang lebih praktis, yaitu microneedle. “Bentuknya seperti patch yang dilengkapi dengan jarum-jarum mikro, yang dapat menghantarkan obat tanpa darah dan rasa sakit.” jelas Qonita

Dari situ, alumni Peserta Student Exchange Officer untuk Indonesia pada International Pharmaceutical Students Federation (IPSF) ini, mulai membaca jurnal dan referensi tentang microneedle. Ia juga membuat daftar professor yang menekuni bidang tersebut di berbagai belahan dunia. 

“Saya menghubungi profesor yang ternyata sudah memiliki banyak hak paten dan publikasi, yang berhubungan dengan microneedle. Di situ permintaan saya disambut baik, akhirnya professor itulah yang menjadi dosen pembimbing saya di Queen’s University Belfast” ujarnya.

Untuk meraih gelar doktor tentu tidak mudah dicapai dalam waktu singkat. Apalagi jika kuliah di luar negeri. Namun, Ia berhasil menyelesaikan studi S3-nya di Queen’s University Belfast. Di usia yang terbilang masih muda, 25 tahun.

Sempat dilema Lanjut S3.

Perempuan berdarah Palu ini, awalnya terdaftar beasiswa sebagai mahasiswa S2 di Queen’s University Belfast, dengan masa studi dua tahun. Setelah melewati tahap initial review (evaluasi progres penelitian tiga bulan pertama), dosen pembimbingnya di Queen’s University Belfast melihat potensi penelitian yang ia garap, sehingga ia pun didorong lanjut penelitian S3. 

Dengan mempertimbankan, penelitian yang Qonita garap memenuhi standar untuk program PhD. 

Awalnya ia menolak, apalagi mengingat beasiswa yang didapatkan hanya dua tahun, sedangkan untuk studi PhD membutuhkan waktu normal minimal 3 tahun.

Ia cukup dilematis karena merasa tidak mampu bertahan hidup di luar negeri, dengan tambahan satu tahun tanpa bantuan beasiswa. Apalagi dosen pembimbingnya hanya membantu menanggung uang SPP, tidak biaya hidup Qonita.

Pada akhirnya, perempuan yang pernah aktif di BEM Farmasi ini memutuskan mengikuti ujian diferensiasi terlebih dahulu, semacam ujian sidang tahun pertama untuk PhD yang menjadi batu loncatannya berpindah ke program PhD. 

Di samping rasa syukur karena bisa lanjut PhD, ia mengaku resah karena perjanjian awal beasiswa yang hanya dua tahun, pengurusan pengalihan itu sempat mengalami kesulitan. Ia juga terkendala masalah visa yang memang validitasnya hanya 2,5 tahun.

Halaman:

Tags

Terkini

Guru Beban Negara? Begini Kata Pegiat Pendidikan

Selasa, 19 Agustus 2025 | 17:19 WIB