Mediapriangan.com - Ketua Dewan Kesenian Kota Tasikmalaya (DKKT) Bode Riswandi, merupakan penulis puisi kawakan asal Tasikmalaya Jawa barat yang karya-karyanya keren dan bermakna sangat dalam.
Bagi kamu pencinta dunia literasi khususnya puisi, pasti kenal dong sama penulis puisi berbakat Bode Riswandi. Salah satu kumpulan puisinya yang dibukukan adalah Antologi Puisi Mendaki Kantung Matamu Bode Riswandi.
Salah satu karya dari Bode Riswandi yang wajib kamu baca adalah Antologi Puisi dengan judul Mendaki Kantung Matamu. Puisi yang ditulis berdasarkan pengalaman pribadi dan sentuhan imajinasi sang penulis ini akan mengaduk-aduk perasaan. Buku antologi puisi yang berisikan 63 puisi karya terbaik dari Bode Riswandi ini merupakan puisi-puisi pilihan dan sarat makna. Ada yang bernuansa kehidupan, ketuhanan, bahkan ada juga yang menyentil.
Beberapa Puisi dalam Antologi Puisi Mendaki Kantung Matamu Bode Riswandi
1. Mendaki Kantung Matamu
Mendaki kantung matamu rakyat menghangatkan darah. saban waktu. Matanya tungku dan hatinya cahaya api. Jika kelam tiba mereka khatam nyulut tubuh sendiri. Jadi fajar atau matahari: bumi dan langit milik kita. Untuk ditanami jagung atau padi.
Itulah penggalan puisi dengan judul yang sama dengan buku antologi puisi Bode Riswandi. Puisi yang diperuntukkan bagi WS. Rendra ini begitu sarat makna dan penuh dengan sentilan isu sosial.
2. Pemberangkatan
Tuhan tak datang ke bangsal atau ke kamar-kamar. Tak duduk manis di ruang tunggu juga kursi kayu. Ia suka hadir sesaat dalam sekejap percakapan.
Puisi yang ditulis Bode Riswandi pada tahun 2002 ini begitu menyiratkan tentang makna ketuhanan. Lewat pilihan diksi yang indah lagi menyekat nafas siapa pun yang membacanya pasti terhanyut dalam renungan yang dalam.
3. Tasikmalaya, 1
Angin dan hujan runtuh ke dasar huma. Ke dasar dadamu. Di pekarangan, urat. Seribu petani jadi matahari. Bagi yang tiba dan yang pulang, hulu atau girang. Adalah rumah sakal yang mengkatami. Tujuh lapis musim kawin sendiri-sendiri.
Benar-benar seorang penulis puisi yang bertalenta hingga sanubari, itulah yang tepat untuk menggambarkan karya-karya dari Bode Riswandi. Bukan hanya menyinggung isu sosial dan ketuhanan saja.
Ia juga seringkali menulis puisi tentang tanah kelahirannya. Seperti salah satu puisi yang ia tulis pada 2009 ini. Bermakna dalam dan memberikan renungan terhadap makna kampung halaman. Apalagi jika dibaca saat rintik hujan sembari menatap biasan embun di jendela. Rasanya, menghujam sekali.