Hari Buku Nasional 2022, Sejarah Menumbuhkan Budaya Membaca Buku

photo author
Asep Budi Karyana, Media Priangan
- Senin, 16 Mei 2022 | 22:01 WIB

Mediapriangan.com - Hari Buku Nasional (Harbuknas), menjadi momentum sejarah yang penting dalam bidang pendidikan di Indonesia. Harbuknas pertama kali dicetuskan oleh Menteri Pendidikan Era Kabinet Gotong Royong, Prof. Dr. Abdul Malik Fadjar pada 17 Mei 2002. 

Peringatan Harbuknas juga bertepatan dengan peringatan pendirian Perpustakaan Nasional (Perpusnas), yang didirikan di Jakarta pada 17 Mei 1980.

Tujuan ditetapkan Hari Buku Nasional adalah untuk meningkatkan minat baca. Dimana, kala itu minat baca masyarakat Indonesia tergolong memprihatinkan. 

Dikutip dari laman Kementerian Komunikasi dan Informatika (16/5/2022), berdasarkan hasil study World’s Most Literate Nations Ranked yang dilakukan oleh Central Connecticut State Univesity pada Maret 2016, Indonesia dinyatakan menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara soal minat membaca.

Menurut data UNESCO, minat baca masyarakat Indonesia sangat memprihatinkan, hanya 0,001%. Artinya, dari 1,000 orang Indonesia, cuma 1 orang yang rajin membaca. 

Tentu ini sangat mengkhawatirkan bagi masa depan peradaban Indonesia. Hal itu didasarkan karena membaca buku merupakan aspek penting dalam perkembangan suatu peradaban bangsa. Dengan bukulah seseorang akan mendapatkan ilmu, karena buku adalah gudang ilmu.

Permasalah minimnya minat baca buku anak Indonesia tidak serta merta disebabkan oleh kurangnya infrastruktur pendukung. Sebetulnya ketersediaan buku-buku sudah terpenuhi dengan baik. 

Berbagai pihak pun terus berupaya untuk menyediakan fasilitas baca buku gratis, seperti adanya perpustakaan daerah, perpustakaan keliling, dan yang terbaru adanya sebuah gerakan pemuda yang menggagas rumah baca dan sejenisnya di daerah-daerah terpencil di Indonesia. 

Minimnya minat baca buku anak Indonsia, lebih di titik beratkan kepada budaya anak Indonesia untuk membaca buku itu sendiri. Hal ini pernah diutarakan oleh mantan Menteri Pendidikan Indonesia, Anies Baswedan. 

Manurut Anis Baswedan, minimnya minat baca buku anak Indonesia dikarenakan minimnya memanfaatkan infrastruktur pendukung yang ada, sehingga perlu adanya semangat menumbuhkan budaya baca buku bagi anak di Indonesia. 

"Upaya menumbuhkan budaya membaca buku, perlu suatu momen yang mendukung sehingga tujuan itu bisa tercapai. Salah satunya yaitu dengan cara membudayakan perayaan Hari Buku Nasional setiap tanggal 17 Mei," katanya.

Jadi, memperingati Hari Buku Nasional ini harus dijadikan kebiasaan, sehingga menjadi sebuah budaya baru. Lebih jauh dari pada itu, Hari Buku Nasional ini sebagai momentum untuk melakukan kegiatan-kegiatan positif yang dapat menumbuhkan semangat minat baca masyarakat Indonesia.

Selain itu, Hari Buku Nasional diharapkan dapat menaikkan angka penjualan buku. Di Indonesia, rata-rata hanya 18 ribu judul buku yang dicetak setiap tahunnya. Jumlah tersebut jauh berbeda dengan negara lainnya, seperti Jepang dengan 40 ribu judul buku per tahun dan China dengan 140 ribu judul per tahun.

Untuk meningkatkan minat baca, masyarakat Indonesia harus sadar tentang betapa pentingnya membaca buku. “Buku adalah jendela dunia", maksudnya, dengan membaca buku akan membuka dan memperluas wawasan seseorang. 

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Asep Budi Karyana

Tags

Rekomendasi

Terkini

X